Oleh: Firman Yusi | 12 Februari 2014

Cerita dari Gelar Budaya Dayak Deah

Tari Kurung-kurung

Sumringah sukses Gelar Budaya Dayak Deah Kampung Sepuluh masih sangat membekas di kepala saya hingga hampir seminggu pelaksanaannya. Saya yakin, tak hanya saya, tapi juga banyak kawan lain, baik yang terlibat langsung atau tidak langsung pada kegiatan ini. Buktinya, bombardir hasil dokumentasi kegiatan (foto-foto) kegiatan ini terus mengalir di dunia maya. Tidak hanya di group facebook Berwisata (Bakunjang) ke Tabalong (https://www.facebook.com/groups/196877990509403/), juga di dinding-dinding/kronologi pribadi para fotografer, pada group facebook Komunitas Fotografi Budpar (KFB) – KalSel (https://www.facebook.com/groups/369006076535864/), pada portal berita Antara News Kalsel (http://kalsel.antaranews.com/foto).

Alat musik Kurung-kurung

Alat musik Kurung-kurung

Tapi tak banyak orang yang tahu tentang perjalanan menuju sukses acara ini, siapa saja yang bergerak dibelakang layar serta seperti apa ikhtiar yang dilakukan untuk mendukung suksesnya acara.   Gagasan Gelar Budaya Dayak Kampung Sepuluh muncul dari diskusi antara saya sebagai Direktur Eksekutif Perkumpulan Pusaka dengan CSR Superintenden PT Adaro Indonesia, Fajerianur Mus’adi. Mimpi besarnya adalah berusaha mendorong tumbuh dan berkembangnya sektor pariwisata sebagai salah satu alternatif penggerak ekonomi selain tambang. Sebagai Superintenden Bina Program, Pa Fajeri merasa turut bertanggung jawab untuk menyiapkan masyarakat sekitar menghadapi pasca tambang.

Mendorong sektor pariwisata bukan pekerjaan gampang, namun pekerjaan berat yang harus dijalani dengan sangat serius. Hanya mengandalkan wisata alam tak menjamin daerah yang berada ditengah-tengah Pulau Kalimantan ini menarik minat para wisatawan, apalagi dengan jujur harus saya akui, jika dibanding wisata alam di daerah lain yang sudah lebih dahulu mapan, maka boleh dibilang kekayaan wisata alam Tabalong masih “belum apa-apanya”.

Tari Mandau

Tari Mandau

Oleh karenanya kami menyimpulkan harus melakukan pendekatan yang berbeda, sesuatu yang khas, yang tidak akan ditemukan di daerah lain adalah penarik utama sektor ini. Mulai saat diskusi itu berlangsung, saya sendiri lalu melakukan studi kecil-kecilan. Kebetulan ada banyak kesempatan saya mengikuti studi banding dan perjalanan ke luar daerah, berhubungan dengan banyak orang, termasuk para pelaku di industri pariwisata.

Engrang dengan Bahan Tempurung Kelapa

Engrang dengan Bahan Tempurung Kelapa

Perjalanan itu memberi ruang bagi saya untuk banyak melihat, mendengar dan menggali informasi tentang strategi pengembangan kepariwisataan di banyak daerah.

Singkat kata, akumulasi dari berbagai pengetahuan itu memunculkan gagasan program yang awalnya kami sebut Festival Kampung Sepuluh. Kampung Sepuluh adalah daerah sebaran suku Dayak Deah di Tabalong, meliputi Kecamatan Haruai dan Upau.

Balogo

Balogo

Dayak Deah adalah suku dayak yang khas ada di Tabalong, meski sebarannya hingga beberapa kabupaten tetangga, namun pusat aktivitasnya ada di Tabalong. Kebudayaan Dayak Deah akan sulit ditemukan di daerah lainnya. PT Adaro Indonesia melalui Departemen CSR-nya menyambut gagasan ini dan siap memberikan dukungan untuk pelaksanaannya. Gagasannya adalah kegiatan ini harus menjadi milik Dayak Deah, meski gagasan datang dari luar, namun perencanaan teknis dan pelaksana sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat Dayak Deah. Itu berarti tantangan berat kami di awal adalah bagaimana mentransfer gagasan ini kepada kelompok masyarakat Dayak Deah.

Lembaga Adat Dayak Deah Kampung Sepuluh (LADDEKS) adalah pilihan kami. Alasannya sederhana, organisasi ini tumbuh dari bawah, tumbuh atas inisiatif masyarakat Dayak Deah sendiri. Selain itu, PT Adaro Indonesia telah membangun Balai Adat untuk lembaga ini di Desa Pangelak, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong.

Berbekal gagasan dan semangat, kami (saya bersama tim PT Adaro Indonesia mensosialisasikan kegiatan ini. Awalnya kami hanya disambut empat orang warga Deah (termasuk Kepala Adat dan Kepala Desa), kami berusaha menularkan gagasan ini kepada mereka. Meski disambut tak banyak orang, semangat kami tak surut dan terbukti pada pertemuan berikutnya, puluhan “tetuha” Dayak Deah bersama kelompok muda datang untuk mendengar langsung konsep dari gagasan ini.

Awalnya sulit sekali memberikan pemahaman, sebab kegiatan ini dikonsep secara top down, dibawa oleh tim CSR PT Adaro Indonesia dan masyarakat Dayak Deah sendiri belum pernah melaksanakan hal serupa.  Untuk mendukung pemahaman, saya membawa beberpa video tentang kegiatan lain yang menginspirasi program ini, saya putar Jember Fashion Carnival yang sudah mendunia, geliat Kabupaten Banyuwangi melalui Banyuwangi Ethno Carnival dan Tlatah Bocah di lereng Gunung Merapi sebagai contoh keberhasilan mendorong kepariwisataan melalui pendekatan event budaya.

Pendekatan dengan menjelaskan contoh dipadu dengan memberi keleluasaan masyarakat untuk menyusun sendiri perencanaan, menginventarisir kembali budaya yang mereka miliki (yang kian hilang) ternyata membuahkan hasil. Kami menangkap semangat yang luar biasa dari pelaksana, pelaku seni, para “tetuha adat” dan perangkat pemerintahan setempat. Kerinduan mereka untuk kembali menggali dan mengangkat budaya sukunya yang sudah mulai tergerus modernitas dan rasa haru atas gagasan yang muncul justru dari “orang luar” membuat saya dan tim CSR Adaro mengalami efek kejut luar biasa, bahkan cenderung khawatir dengan semangat yang sangat tinggi itu. Khawatir tak bisa memenuhi ekspektasi masyarakatnya.

Hasilnya 4 sanggar seni yang ada di Upau berlomba-lomba menyiapkan penampilan, kelompok masyarakat lain juga berebut untuk bisa menjadi bagian penampilan pada Gelar Budaya, termasuk kelompok perempuan dan anak-anak. Panitia yang dibentuk oleh LADDEKS (58 orang) kewalahan menerima usulan penampilan baik tari, kuliner, permainan anak, pembuatan kerajinan anyaman, ukir, senjata khas Dayak Deah.  Perbandingan estimasi waktu dengan jumlah produk budaya yang ditampilkan sangat tidak berimbang, jika diakomodir semua antusiasme itu, mungkin kegiatan ini mesti dilakukan selama satu minggu penuh. Namun kegiatan hanya direncanakan dilaksanakan selama 2 (dua) hari.

Diluar LADDEKS, saya berusaha mendapat dukungan dari kawan-kawan lain, muncullah kawan-kawan dari Sarabakawa Photographer Club (SPC), muncul pula para relawan yang berasal dari pekerja di PT Adaro Indonesia yang siap memberikan dukungan ditambah dengan relawan Perkumpulan Pusaka yang memang sudah terlebih dahulu eksis. Relawan eksternal ini kemudian mendesain sebuah riset bersama sebagai bentuk dukungan untuk kegiatan yang oleh LADDEKS diubah namanya menjadi Gelar Budaya Dayak Deah Kampung Sepuluh Haruai – Upau. Tim dibagi atas tiga kelompok meliputi Tim Fotografi, Tim Video dan Tim Data. Secara berkala tim melakukan riset langsung ditengah-tengah masyarakat Dayak Deah di Upau. Tim ini berjumlah sekitar 15 orang, gabungan antara relawan Perkumpulan Pusaka, SPC, Pekerja Media, Pekerja di PT Adaro Indonesia.  Kegiatan riset dilakukan setiap Hari Sabtu, dengan dukungan sarana angkutan dari PT adaro Indonesia, tim relawan melakukan pendokumentasian budaya yang ada di masyarakat Dayak Deah, hasilnya digunakan untuk mempromosikan event Gelar Budaya Dayak Deah Kampung Sepuluh, sekaligus menjadi dokumen bagi Lembaga Adat Dayak Deah Kampung Sepuluh.

Bekerja secara paralel, Perkumpulan Pusaka juga membangun jejaring sosial yang berusaha mempublikasikan pariwisata Kabupaten Tabalong. Kami membuat group facebook Berwisata (Bakunjang) ke Tabalong yang dalam waktu tidak lebih dari 2 bulan telah mampu menghimpun 1.374 anggota. Group ini pula yang mendorong terbentuknya komunitas yang disebut dengan Masyarakat Peduli Pariwisata Tabalong. Diluar tim relawan yang telah dibentuk, dari komunitas ini kami mendapat “energi” baru berupa relawan-relawan. Kebanyakan relawan baru adalah relawan muda, berstatus mahasiswa atau anak muda yang baru tamat SMA dan sudah bekerja, keahlian mereka dalam mengelola socialmedia sangat bermanfaat memperkuat lini promosi kegiatan ini.

Awalnya, panitia yang dibentuk LADDEKS terlihat kesulitan memobilisasi dukungan masyarakat secara sukarela. Terbiasa dengan “bancakan uang” proyek pemerintah dan program CSR membuat pertanyaan terbanyak adalah pada manfaat materi. Tapi setelah Tim Relawan turun ke lapangan, mensosialisasikan rencana kerjanya dan langsung melakukan aktivitas, semangat kerelawanan ini kemudian menular kepada masyarakat Dayak Deah, perlahan mereka mulai mengerti pentingnya bekerja sebagai relawan untuk mengangkat kembali budaya mereka. Kerja keras pun berjalan seiring, panitia (yang kemudian juga menyebut diri relawan) dan Tim Relawan bahu-membahu bekerja di area kerja masing-masing mewujudkan program ini.

Tidak sia-sia, penyelenggaraan yang meriah, jejaring sosial dan jejaring mitra para relawan bekerja mempromosikan kegiatan ini. Kedatangan puluhan fotografer dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, liputan media massa adalah buah dari perjuangan itu. Ini tentunya karena dukungan, antusiasme dan penampilan luar biasa dari masyarakat Dayak Deah saat Gelar Budaya dilakukan. Berbagai suguhan tari, dari tari yang eksotis seperti Balian Manaik Manau, tarian pergaulan seperti Tari Kurung-kurung dengan alat musiknya yang khas tampil didepan publik.  Berbagai kuliner lokal, dengan bumbu-bumbu dari tanaman yang ada disekitar, yang sangat berbeda dari bumbu dapur kebanyakan hadir menghias gelar budaya, pun permainan anak-anak seperti bagasing, balogo, baengrang, main tali dan lain-lain.

Sukses ini adalah sukses Dayak Deah, saya, tim CSR PT Adaro Indonesia, kawan-kawan relawan adalah katalisator yang mendorong reaksi namun tidak mempengaruhi hasil reaksi itu. Sampai berjumpa di Gelar Budaya Dayak Deah Kampung Sepuluh II tahun depan, harapannya lebih meriah lagi, lebih eksotis lagi dan lebih berhasil lagi menunjang kepariwisataan di Tabalong.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: