Oleh: Firman Yusi | 26 Januari 2011

Tantangan Mendorong Minat Baca

Membaca adalah membuka jendela dunia, kata perumpamaan lama.  Indonesia memang bangsa yang suka membuat perumpamaan, suka membuat alat kampanye dan semboyan-semboyan, walau sering kali, semboyan itu tinggal menjadi selogan kosong semata.

17102010018Tulisan ini mungkin didasari pengalaman saya pribadi, mencoba mendorong anak-anak muda di Tabalong untuk menggemari membaca melalui program Rumah Belajar Saraba Kawa.  Saya mendedikasikan hal ini karena saya secara pribadi merasakan manfaat luar biasa dari membaca.  Dari membaca saya sadar dunia ini sangat luas, dari membaca saya mengakui samudera ilmu pengetahuan itu hampir tak berbatas, dari membaca saya memahami untuk belajar dari proses apapun yang berlangsung didunia ini.  Yang terpenting, betapa pengetahuan yang diperoleh dari membaca sangat bermanfaat bagi karier/pekerjaan, memunculkan gagasan-gasan baru yang tak cuma bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain dan banyak manfaat lainnya.

Saya melihat, ada beberapa hal yang menjadi faktor sulitnya mendorong minat baca di kalangan anak muda usia 13 s/d 20 tahun (sekali lagi yang saya ungkapkan berdasarkan pengalaman mendorong minat baca di Program Rumah Belajar Saraba Kawa yang saya kelola).  Beberapa hal tersebut adalah :

  1. Pembaca tidak menerima manfaat langsung dari membaca, hal ini terjadi karena buku-buku bacaan tidak berhubungan langsung dengan aktifitasnya.  Akan berbeda situasinya bila bahan bacaan yang dimaksud terkait erat dengan aktivitasnya sehari-hari, contoh : buku-buku manajemen bisnis akan menjadi diminati oleh mereka yang sedang memanajemen sebuah usaha, buku-buku fisika akan menarik saat pembacanya mengerjakan tugas-tugas sekolah terkait pelajaran fisika dan lain sebagainya.  Maknanya adalah, untuk mendorong minat baca, maka diperlukan usaha mendorong agar subyek yang ingin didorong minat bacanya membutuhkan referensi itu.  Khusus anak sekolah misalnya, sudah selayaknya pengajarnya lebih mendorong anak-anak ini mencari referensi yang sifatnya terbuka, tidak hanya terbatas pada referensi resmi di sekolah, tapi juga dari referensi-referensi umum yang ada dimana-mana dan berlaku untuk semua mata pelajaran, baik eksakta atau ilmu-ilmu sosial dan keterampilan/kesenian.  Dengan demikian anak akan terdorong untuk membaca, mendatangi perpustakaan dan pusat-pusat buku untuk memperoleh informasi sebanyaknya tentang tugas yang sedang mereka kerjakan.
  2. Waktu tidak cukup tersedia.  Khususnya untuk kalangan pelajar, waktu untuk membaca dalam kondisi sekarang sangat minim.  Saya mencoba mengamati aktivitas anak-anak, khususnya belakangan ini.  Menurut hemat saya, pelajar belakangan ini waktunya didominasi oleh aktivitas belajar yang intensitasnya sangat tinggi.  Sebagai “obyek” pencitraan pendidikan yang menggantungkan diri pada angka kelulusan UAN (Ujian Akhir Nasional), sekolah-sekolah kebanyakan “memaksa” siswanya untuk belajar ekstra keras.  Jam belajar resmi berlaku antara jam 14.00 – 15.00, setengah jam atau satu jam kemudian siswa diwajibkan mengikuti pelajaran tambahan dari yang diselenggarakan tiga kali seminggu, hingga ada yang setiap hari.  Pelajaran tambahan dilangsungkan hingga jam 17.30 atau 18.00.  Nah, malam hari, anak-anak ini kemudian mengerjakan PR atau tugas lainnya.  Pertanyaannya kapan waktu yang diberikan kepada para pelajar ini untuk membaca, menambah pengetahuan dari sumber-sumber lainnya.  Kalau toh mereka memiliki waktu, pilihan akhirnya jatuh kepada media hiburan untuk mengurangi “ketegangan” yang mereka hadapi setiap hari.  Hal inilah yang membuat saya menyimpulkan, kampanye membaca, khususnya meningkatkan minat baca di kalangan pelajar sulit sekali diterapkan, khususnya diperkotaan yang jadwal siswanya dipenuhi dengan pelajaran tambahan, kursus bahkan les private.

Dua hal diatas hanya catatan berdasarkan pengalaman yang saya lihat.  Bila kita benar-benar ingin mendorong minat baca bangsa ini, mestinya program itu harus terintegrasi dengan program-program lain, sehingga tidak bertabrakan dengan program lainnya.  Saya khawatir, program bagi pelajar yang bertumpuk-tumpuk membuat remaja-remaja kita mudah stress karena selalu berada dalam tekanan dan tuntutan.  Sudah selayaknya kita memberi “ruang bernafas” bagi remaja-remaja ini agar mereka bisa menikmati masa mudanya, berkreasi, berinovasi secara lebih longgar sehingga menjadikan mereka generasi yang kreatif dan mandiri.


Responses

  1. Sependapat dengan pikiran Sdr., membang harus diberikan ruang bernafas bagi anak didik, untuk bermain, bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, bercanda dengan kedua orang tua, kakak dan adik.

    Banyaknya beban kurikulum yg kenakan kpd anak didik, oleh karena sisitem pendidikan kita yg ingin semua hal dijejalkan dan dalam waktu yg relatig singkat. Hasilnya lihat pd kondisi sosial sekarang, banyak tenaga kerja terdidik yg tidak bekerja formal atau tidak formal. Seharusnya pendidikan itu menghasilkan manusia manusia yg siap mental / spiritual menatap kehidupan dihadapannya, kehidupan nyata secara ekonomi, politik dan sosial budaya.
    Manusia yg tidak mudah mengeluh, menyalahkan orang lain dan penyakit mental yang mematikan kreatifitas dan inovasi.
    Semoga Rumah belajar Saraba Kawa bisa memberikan suatu alternatif dalam menumbuhkan semangat membaca generasi muda Tabalong, Selamat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: