Oleh: Firman Yusi | 28 Desember 2010

Tanjung, Kota Pendidikan Masa Depan

25042010436

Tanjung, kota ini lebih dikenal sebagai daerah penghasil kekayaan alam ekstraktif.  Dahulu, sejak jaman penjajahan Belanda, sumber daya minyaknya sudah dieksploitasi dan pasca kemerdekaan menjadi salah satu sumber minyak yang dikelola oleh Pertamina, BUMN yang khusus berusaha di bidang itu.  Sejak tahun 80-an, kekayaan alam lainnya, batubara, muncul sebagai primadona baru tepat saat produksi minyak bumi mulai menurun.

Akibat aktifitas industri ekstraktif ini, Tanjung, Ibukota Kabupaten Tabalong terkenal sebagai salah satu kota “terkaya” di Kalimantan Selatan dan ibarat sebuah lampu yang menyala terang, laron-laron akan berdatangan mengerubunginya.  Laron-laron yang saya maksud adalah berdatangannya kaum pendatang, baik para profesional yang dikontrak industri tersebut maupun yang datang mengadu nasib, mencari peluang diantara perkembangan ekonomi kota yang dinamis sebagai dampak ikutan dari banyaknya uang beredar di daerah ini.

Berdatangannya pekerja profesional dan para perantau inipun berpengaruh bagi nafas ekonomi kota ini.  Sebagian besar perantau yang mengadu nasib, membuka usaha kecil yang selain menghidupkan kota juga mampu menyerap lapangan pekerjaan baru, mereka berinteraksi positif dengan para profesional, baik lokal atau pendatang, yang membelanjakan pendapatannya yang besar di kota ini.

Satu pertanyaan yang muncul dikepala kita adalah bagaimana nanti kalau industri ekstraktif ini tidak lagi menjadi sektor andalan? Sebagaimana kita ketahui bahwa sektor ekstraktif adalah industri yang mengekstrak kekayaan alam yang sudah tersedia di bumi dan biasanya merupakan sumber daya yang tak terbarukan.  Karenyanya produksinya akan terbatas pada deposit kekayaan alam itu sendiri, semakin sedikit depositnya atau semakin giat di eksploitasi, maka semakin cepat pula kekayaan alam itu akan habis.  Bagaimana dengan Kota Tanjung? Akankah ketika kekayaan alam itu habis, laron-laron akan pergi dan Kota Tanjung menjadi kota mati?

Jawabannya ya jika tidak segera dipersiapkan produk baru yang lebih sustainable.  Banyak daerah yang kaya akan sumber daya alam yang menjadi korban “euforia” industri ekstraktif yang kemudian berakhir dengan keterpurukan.  Gagal mensejahterakan rakyatnya secara sustainable, redup dan padam ketika industri ekstraktif itu tutup.  Fenomena kegagalan industri ekstraktif itulah yang dalam sebuah kampanye internasional disebut sebagai “Resource Curse” atau “Kutukan Sumberdaya Alam”, dimana seringkali kekayaan alam gagal mensejahterakan, tapi justru menjadi kutukan yang membuat rakyat dan alamnya hancur.

Salah satu produk yang sustainable menurut hemat saya, khususnya untuk Kota Tanjung, adalah dengan mendesain dan mempersiapkan kota ini menjadi kota pendidikan baru.  Kota pendidikan ini tidak hanya untuk mencapai visi Tabalong Cerdas, akan tetapi akan menjadi lentera baru yang bisa mengundang orang lain berdatangan ke kota ini dan menghidupkan aktivitas kota.

Yang tersedia di kota pendidikan ini adalah lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia tidak hanya di tingkat lokal, akan tetapi juga memenuhi kebutuhan regional.  Posisi Kota Tanjung yang ada di perlinatasan 3 (tiga) propinsi berpeluang besar untuk mengundang calon mahasiswa yang berasal dari propinsi lainnya atau kabupaten lainnya yang ada di Kalimantan Selatan. 

Kedekatan jarak dan kualitas pendidikan tentunya akan sangat mempengaruhi arus manusia penuntut ilmu.  Oleh sebab itu, kajian mendalam harus dilakukan untuk menentukan pendidikan  macam apa dengan strandar seperti apa yang akan disediakan di Tanjung.  Jika pendidikan yang tersedia berkualitas, dan alumninya mampu memenuhi kebutuhan pasar lapangan kerja, maka saya yakin lembaga pendidikan tinggi yang ada akan menjadi primadona, baik di tingkat lokal maupun regional (kabupaten lain atau propinsi lain).

Untuk mempersiapkan Kota Tanjung menjadi kota pendidikan, maka desain dan kajian itu perlu dilakukan sejak dini, sejak sumberdaya yang dimiliki mampu berkontribusi untuk mengkaji, mendesain dan merealisasikannya dengan baik.  Syaratnya adalah konsisten pada tujuan dimana perencanaan tidak hanya disusun untuk kepentingan politik atau kepentingan material, tetapi desainnya memang disusun sebagai salah satu strategi pertahanan ekonomi bagi masyarakat di Tabalong.

Sektor pendidikan juga akan berkontribusi dalam pengembangan ekonomi, dengan berdatangannya penduduk untuk menempuh pendidikan di kota ini, maka sektor-sektor ekonomi, khususnya usaha kecil terkait akomodasi, kuliner, konveksi, buku dan alat tulis akan menjadi sektor usaha primadona yang menghidupkan kota.


Responses

  1. Memperhatikan tulisan anakanda Firman Yusi,SP sebagai seorang anak muda yang cukup potensial dan berbakat bagi generasi yang akan datang khususnya di Kab. Tabalong dengan gagasan-gasan yang cukup brilian dan ketajaman membedah masalah secara akurat
    Kami selaku orang tua bangga bahwa Kab. Tabalong mempunyai generasi muda yang perduli tanah tumpah darahnya sendiri.
    Saya teringat akan maqalah yang berbunyi ” Hubbul wathan minal iman ” (Cinta tanah air itu adalah sebagian dari Iman).
    Ayo…..ayo mana generasi muda Kab. Tabalong yang lainnya, bangkit bersama-sama membangun Kab. Tabalong.
    Dalam sebuah mahfuzat berbunyi ” Namanya pemuda adalah Aku bukan Bapak ku ”
    Mungkin anaknda Yusi belum pernah tahu atau pernah mendengar cerita orang tua. Karena di tahun 1950 an dan hingga awal tahun 1960 an (Sewaktu Kab. Tabalong statusnya masih Kewedanaan dibawah Kab. HSU dengan kotanya Amuntai).
    Transportasi lalu lintas Banjarmasin sampai ke Muara uya ada setiap hari dengan naik Bus. Bus melayani penumpang ada 6 buah yang selalu standby dari Muara Uya, Pangkalan Murung Pudak dan Kota Tanjung sendiri.
    Kami sewaktu belajar di SR (Sekolah Rakyat) di buku pelajaran Ilmu Bumi karangan Abas Hasan disitu dicantumkan bahwa penghasil karet terbesar di Indonesia salah satunya adalah Tanjung (Desa Hayup penduduknya adalah transmigrasi dari Jawa di tahun 1920 an hingga awal tahun 1940 an di daerah sinilah perkebunan karet yang dikelola oleh Belanda, mohon maaf para pekerja disebut dengan pekerja Rodi) walaupun ada juga kebun pohon karet (pohon Para Bhs. banjar) kepunyaan rakyat yang dimiliki secara pribadi.
    Sehingga timbul pengusaha yang terkenal di Haruai dengan nama : H. Abdul Hamid, di Kelua H. Mat Noor, Kalahang/Wajau H. Djantera, Tanjung H. Syahraf, H. Bakri, H. Badri dll.
    Anjoknya harga karet yaitu ditahun 1965 sewaktu terjadi inflasi besar-besaran yaitu terjadi perubahan nilai tukar uang dari Rp 1.000,- (seribu rupiah) menjadi Rp 1,- (satu rupiah) dan sebelumnya di tahun 1962 – 1966 konfrontasi Indonesia dengan Malaysia dan di tahun 1965 terjadi pembrontakan PKI.
    Situasi inilah mulai memudarnya para pengusaha karet di Kab. Tabalong.
    Ini hanya sebagai gambaran saja, yang pernah juga saya tuangkan dalam surat kepada Bp. Drs.H. Rahman Ramsyi,M.Si. (Bupati Tabalong sekarang) di tahun 2003 waktu itu beliau masih Sekda Kab. Tabalong untuk mengangkat kembali keterpurukan karet tsb. agar menjadi pioner bagi PAD daerah Kab. Tabalong selain Pertambangan batu bara, karena Pertambangan batu bara adalah produk yang tidak bisa diolah ulang kembali.
    Alhamdulillah beliau menyetujuinya sehingga ada pabrik Karet di Kab. Tabalong dan pendapatan rakyat cukup signifikan meningkat.

    Untuk Pendidikan ini adalah merupakan sumber utama untuk meningkatkan SDM, saya setuju atas saran anaknda tersebut. Kita bisa memperhatikan bagaimana Singapore, Jepang, Hongkong, apa SDA yang diandalkan mereka ????????????.
    Cukup disini dulu nanti kepanjangan, akhirnya membosankan. TK. Mahadi S. – Simpang 4 Mr. Pudak.

    • terima kasih, pak. karet memang akan tetap jadi primadona, khususnya untuk menopang dan mensejahterakan masyarakat di pedesaan. gagasan kota pendidikan ini untuk menjawab persoalan ekonomi di perkotaan yang juga memerlukan perhatian kita dan memerlukan penggeraknya. maka saya menyarankan untuk mengembangkan pendidikan sebagai penggeraknya, pengganti sektor ekstraktif yang makin lama pasti makin pudar. terima kasih sudah berbagai, diskusi macam ini akan sangat efektif untuk menggali gagasan-gagasan yang berceceran dimana-mana untuk menjadi kekuatan membangun banua kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: