Oleh: Firman Yusi | 15 April 2010

Hentikan Mendidik “Generasi Curang”

Ujian Akhir Nasional (UAN) sudah lewat, para siswa sudah “merdeka” dari beban yang menghimpit, ancaman tak lulus, ancaman tak memungkinkan melanjutkan studi, ancaman harus mengambil ujian paket C, ancaman harus mengulang ujian tahun berikutnya, yang terparah ancaman dikucilkan dari lingkungan dan keluarga karena dianggap tak mampu memperoleh angka standar untuk lulus dan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Para pendidik lega, kepala sekolah lega, regulator di bidang pendidikan lokal pun turut lega.  Bahkan tak sedikit yang sedang bersiap-siap “menerima penghargaan” karena mampu meluluskan siswa sejumlah 90 – 100 %, sebagai sebuah prestasi luar biasa menghasilkan “generasi cerdas” yang siap memimpin daerah dan negara ini dimasa yang akan datang.

Tapi benarkah angka kelulusan yang tinggu itu sepenuhnya disebabkan oleh keberhasilan metode pendidikan yang dikembangkan? Benarkah kelulusan ini karena “kualitas” para pengajarnya yang sudah melewati proses sertifikasi-sertifikasi? Mengikuti seminar-seminar pendidikan? Mengikuti pendidikan keguruan dan penyetaraan?  Atau karena try out-try out? Jawabannya bisa ya bisa tidak.

Kenapa bisa ya bisa tidak? Sudah bukan rahasia umum lagi jika tak sedikit sekolah ataupun melibatkan regulator dibidang pendidikan melakukan “langkah-langkah khusus” untuk menjamin meluluskan sebanyak-banyaknya siswa. Kalau langkah khusus berupa intensifikasi belajar, menambah jam dengan melatih mengerjakan ribuan soal ini tak apa, tapi “bisik-bisik samar” menyebutkan kalau untuk meluluskan sebanyak-banyaknya siswa, tak sedikit pendidik dan regulator pendidikan berlaku curang dengan “membocorkan jawaban” kepada siswa peserta UAN.  Atau juga jawaban siswa yang “diperbaiki” sebelum dikirimkan kepada pihak yang berkompeten.  Aktivitas ini bak mafia pendidikan yang melibatkan banyak pihak.  Tujuannya tak lain, mengangkat gengsi daerah atau gengsi sekolah biar dinilai telah menerapkan metode pendidikan terbaik yang bisa dilakukan.

Sadarkah para pendidik yang melakukan perbuatan nista itu kalau apa yang mereka lakukan sangat kontraproduktif dengan makna hakiki dari pendidikan, yang menempatkan ilmu pengetahuan dan moral sangat tinggi agar menghasilkan generasi terbaik, berintegritas tinggi, berakhlak mulia, berpengetahuan luas dan siap menghadapi tantangan jaman.  Sadarkah mereka kalau mereka tengah mendesain kehancuran generasi mendatang?

Sejak dini para siswa telah dikenalkan dengan metode “menghalalkan segala cara” untuk mencapai tujuan.  Sebagai anak didik, metode ini tentu akan menjadi panduan hidup sepanjang umurnya, bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, cara apapun tak haram dilakukan, meski curang dan jauh dari etika moral.  Wajar saja jika ada pegawai Direktorat Pajak, diusia sangat muda, dengan hanya menduduki Golongan III, masih tergolong pegawai baru di Diektorat Pajak, berhasil mengumpulkan puluhan milyar duit di rekeningnya, mengoleksi rumah dan mobil mewah, yang jika diukur tak mungkin mampu dipenuhi dengan gajih para pegawai lainnya yang dua tingkat berada diatasnya.

Gayus hanya salah satu, sementara metode itu telah digunakan untuk meluluskan ratusan ribu atau bahkan jutaan siswa setiap tahunnya.  Akan jadi apa masa depan negeri ini jika hal ini dibiarkan berlanjut, bahan baku generasi ini baik, dimasukkan dalam mesin yang bekerja buruk, maka hasil produksinya dijamin buruk.  Untuk menghasilkan sesuatu yang baik, selain bahan baku yang baik, mesin pun harus dipilih yang terbaik.

Seorang kawan pernah berkomentar, “Wajar saja ini terjadi, toh banyak guru yang kuliah penyesuaian, saat ujian berlangsung lebih memilih membayar joki dan dengan bangga memperlihatkan nilai-nilai hampir sempurna.”  Semuanya ini karena mereka mendewakan angka-angka, angka kelulusan, angka nilai dan angka-angka lainnya, sementara kualitas menjadi urusan nomor seribu satu.

Hentikanlah mendidik “Generasi Curang” agar negeri ini tak menjadi “Negeri Para Bedebah”.


Responses

  1. Hal ini sudah menjadi bersifat Nasional, karena ini (UAN) kebijakan Pemerintah. Peristiwa dalam menyikapinya (anak didik, orang tua dan dinas ) beragam cara, hampir bisa dikatakan ” Semua Cara HALAL ” yang penting berhasil lulus. Mengingat besarnya biaya, waktu, energi yang sudah dikeluarkan.

    Orang lupa bahwa sehelai Ijazah tidak berarti (nilai) banyak dalam menempuh hidup dan kehidupan ini, padalah yang diperlukan adalah proses pendidikan yg baik dan benar, berdasarkan nilai-nilai luhur yang membentuk watak (karakter) anak didik /bangsa menjadi Manusia yg bermoral tinggi, punya integritas dan ihlas dalam berbuat / bekerja.

    Banyak orang yg tidak punya ijazah formal bisa berhasil dalam meniti kehidupan, dikarenakan proses pendidikan orang tua dan lingkungan yang baik dan benar.

    Semoga Tuhan memberikan jalan keluar dari keadaan yg tidak menguntungkan ini. Amin.

    • Jadi takut pak, anak ulun masih 1 tahun lebih, kalau metode pendidikan “moral” yang “menghalalkan segala cara” ini terus berlanjut, jadi takut menyekolahkan anak di Indonesia, menyekolahkan anak di luar negeri duitnya yang kadada, jadi harus berjuang untuk metode pendidikan yang lebih jujur dan mengkedepankan integritas

  2. Waspadai misteri bangku kosong setiap ada ujian…

  3. Kabar yang bukan lagi rahasia, negeri ini memang sedang didesain menjadi negeri yang takkan pernah punya standar moral yang baik….

  4. siiiiiiiiiiiiiiip

  5. Buat home schooling, sekolah yg tidak berorientasi pada ijazah, tapi pada bakat dan kemampuan anak, disertai pembentukan karakter yg baik (moral, nilai agama dan integritas).

    Sekolah tentang hidup dan kehidupan, untuk menjadi manusia yang manusiawi ( sangat menghargai/menghormati Manusia dan kemanusiaan)

    Kak Seto ,anak2 nya tidak ada di sekolah umum.

    Menyikapi sistem pendidik di Negeri (orientasi kelulusan/ijazah) kita ini, kembali kepada Kita sendiri sebagai orang tua, apa kita mau hanyut atau kita bertahan dengan prinsip kita, apa pun yang terjadi pada anak, lulus atau tidak lulus tidak menjadi masalah, asal sudah diupayakan berbagai cara belajar yang baik dan diterapkan………….tawakal kpd Allah.

  6. saya agak kurang setuju dengan istilah curang bro…karena anda terlalu berkiblat ke paham skeptisme, dan ini agak kurang baik persepsinya di mana banyak hal yang positif yang dapat kita ambil dari kebijakan yang diterapkan saat ini. kalau boleh saya sumbang pemikiran judulnya yang unik itu adalah “mendidik generasi letoy” ha ha ha…agak lucu memang dan cukup mengelitik. bro…fenomena sosial kita saat ini tidak lepas dari kata ‘letoy’ apa pun yang menjadi masalah bangsa ini semua sumbernya adalah letoy nya semangat kita untuk menjadi lebih baik….
    korupsi meraja lela itu menandakan moral dan keimanannya yang letoy.
    jadi sesungguhnya yang kita harus benahi adalah semua proses pendidikan yang menutup kemungkinan kita untuk menjadi letoy….orieantasi kita harus berubah dari hasil menjadi menghargai semua proses pendidikan itu sendiri. saya sepakat UAN tidaklah jadi eksekutor satu-satunya yang melegitimasi bahwa anak didik menjadi gagal, tapi alangkah baiknya kolaborasi dari proses pendidikan dan UAN menjadi tolak ukurnya sehingga terjadi senergi antara keduanya, dan bagaimana prosodurnya tentu pakar pendidikanlah yang bisa menjawab.
    dengan sinergi dua faktor tadi maka akan menghasilkan generasi yang tidak letoy. satu sisi proses pendidikan penting dan dihargai oleh siswa sebagai user dan UAN adalah merupakan stimulus bagi user untuk merangsang terjadinya perubahan sikap yang berorentasi hasil menjadi orieantasi proses, dan ini menyebabkan siswa didik menghargai arti kata kerja keras. dan Insya Allah kita akan memiliki generasi yang tidak “letoy” semoga…ha ha ha

  7. ……??????????

  8. Memperhatikan masalah pendidikan, saya teringat padahan orang tua bahari, apabila guru kencing berdiri maka murid kecing berlari, dan sebuah mahfuzat berbunyi : Anta tahshudu maa zara’ta (Engkau akan menuai apa yang engkau tanam) semoga hal ini menjadi ibrah bagi kita semua. TK. Mahadi S. – Simpang 4 Mr. Pudak.

  9. Memperhatikan masalah pendidikan, saya teringat papadahan orang tua bahari : ” Apabila guru kencing berdiri maka murid kecing berlari “, dan sebuah mahfuzat berbunyi : ” Anta tahshudu maa zara’ta ” (Engkau akan menuai apa yang engkau tanam) semoga hal ini menjadi ibrah bagi kita semua. TK. Mahadi S. – Simpang 4 Mr. Pudak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: