Oleh: Firman Yusi | 10 April 2010

Samita : Bintang Berpijar di Langit Majapahit

Kalau dua buku sebelumnya masuk katagori “sangat serius” maka kali ini saya ingin sedikit mengulas buku yang agak santai, sebuah novel karya anak negeri, Tasaro.  Buku ini diterbitkan oleh DAR! Mizan pada tahun 2004 dengan isi sekitar 488 halaman.

Buku ini adalah sebuah fiksi berlatar belakang sejarah nyata, sebagai fiksi berlatar sejarah, novel ini cukup renyah dan ringan untuk disimak, namun konflik yang terjadi digambarkan dengan baik dan begitu nyata sehingga ketika menyimaknya seakan kita diceritakan sebuah “kisah nyata” yang terjadi berabad silam di salah satu kerajaan besar dalam sejarah kita, Majapahit.

Buku ini menceritakan kedatangan pertama kalinya Laksamana Cheng Ho di tanah Jawa, saat itu Majapahit baru saja melewati fase kejayaan yang besar, mempersatukan nusantara dibawah sang raja Hayamwuruk dengan Mahapatih Gadjah Mada-nya dan masuk ke ambah kehancuran akibat perpecahan didalam tubuhnya karena perebutan kekuasaan para pewarisnya.

Cheng Ho datang ke Majapahit bersama tiga orang muridnya.  Salah satu muridnya adalah Hui Sing, murid Cheng Ho satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan.  Hui Sing lah yang kemudian menjadi aktor utama dalam novel ini.  Gadis belia ini terjebak dalam perseteruan berdarah antara Majapahit dengan Blambangan.  Konflik diperparah dengan hilangnya kitab jurus utama Laksamana Cheng Ho, Kitab Kutub Beku, dari kamar sang laksamana saat para prajurit Kekaisaran Cina, para pengawal Cheng Ho mendarat di Simongan sementara untuk tujuan mengobati seorang anggota rombongan, sahabat sang laksamana yang tertular penyakit cacar air. Kesalahfahaman berbuntut tewasnya puluhan para pengawal Cheng Ho, karena mereka diduga membantu Blambangan.

Hui Sing yang bersama gurunya berkunjung ke Istana kerajaan Majapahit, jatuh cinta pada orang yang salah.  Bahkan serangkaian penghianatan yang terjadi hampir saja merenggut nyawanya.  Ditengah harapannya yang hampir putus, Hui Sing memilih bangkit, berpisah dengan rombongan dan gurunya yang melanjutkan perjalanan, Hui Sing memilih bertahan di tanah Jawa dan menghadapi masalah, bukan malah menghindarinya.

Novel berlatar belakang sejarah keruntuhan kejayaan Majapahit ini menghamparkan perjuangan panjang seorang pendekar muslimah dalam menemukan jati dirinya.  Terpisah ribuan mil dari negeri kelahirannya, Hui Sing berjuang seorang diri meredam pengkhianatan, menundukkan penguasa bodoh sekaligus menemukan cinta sejatinya.

Tasaro sang pengarang layang diacungi jempol, ia mampu meramu sejarah, jurus-jurus silat ala Kho Ping Ho dan kisah cinta. Enak dibaca dan menghibur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: